Celer.my.id – Kemeriahan peringatan Hari Monyet Sedunia yang jatuh pada tanggal 14 Desember kemarin masih terasa hangat diperbincangkan oleh para aktivis lingkungan dan pencinta satwa di berbagai belahan dunia. Momen tahunan ini bukan sekadar perayaan seremonial belaka, melainkan panggilan darurat untuk menyadari peran vital primata dalam menjaga keseimbangan alam yang kini semakin rapuh.
Perayaan unik ini sebenarnya bermula dari keisengan dua mahasiswa seni, Casey Sorrow dan Eric Millikin, di Michigan State University pada tahun 2000 silam yang ingin memberikan apresiasi lebih pada satwa ini. Berawal dari coretan sederhana di kalender, inisiatif ini kemudian berkembang pesat menjadi gerakan global yang menyoroti isu konservasi, evolusi, dan hak asasi hewan (Perlu diverifikasi: Pastikan detail sejarah pendiri dan tahun awal perayaan akurat sesuai sumber sejarah pop-culture).
Salah satu alasan utama mengapa monyet dan kerabat primatanya disebut sebagai pahlawan ekosistem adalah peran mereka sebagai “tukang kebun” alami yang bekerja tanpa henti di dalam hutan tropis. Melalui kebiasaan makan buah-buahan dan membuang kotoran sembarangan saat berpindah tempat, mereka secara tidak sadar menyebarkan biji-bijian ke area tanah yang subur untuk tumbuh menjadi pohon baru.
Proses penyebaran benih atau seed dispersal ini sangat krusial karena banyak spesies tanaman keras yang bijinya hanya bisa berkecambah setelah melewati sistem pencernaan primata tertentu. Tanpa kehadiran monyet, regenerasi hutan hujan tropis bisa terhambat drastis, yang pada akhirnya akan berdampak buruk pada suplai oksigen dan penyerapan karbon bagi manusia (Perlu diverifikasi: Cek jurnal ekologi mengenai spesifikasi biji tanaman yang bergantung pada pencernaan primata untuk tumbuh).
Selain menyebarkan benih, keberadaan monyet juga berfungsi sebagai indikator kesehatan lingkungan dan bagian penting dari rantai makanan yang menjaga stabilitas populasi hewan lain. Mereka bertindak sebagai pengendali populasi serangga atau hewan kecil lainnya, sekaligus menjadi sumber makanan bagi predator puncak seperti elang atau macan tutul di habitat liarnya.
Penting juga untuk meluruskan pemahaman masyarakat awam mengenai perbedaan mendasar antara monyet (monkey) dan kera (ape) yang seringkali dianggap sama padahal memiliki karakteristik fisik berbeda. Monyet umumnya memiliki ekor dan ukuran tubuh lebih kecil, sedangkan kera seperti orangutan atau simpanse tidak memiliki ekor dan memiliki struktur otak yang lebih mendekati manusia.
Sayangnya, peringatan ini juga membawa kabar muram mengenai nasib sepupu jauh manusia ini yang terus terdesak oleh alih fungsi lahan dan maraknya perburuan liar. Konflik antara manusia dan monyet semakin sering terjadi ketika habitat asli mereka dirampas paksa untuk dijadikan lahan perkebunan sawit monokultur atau perluasan area pemukiman baru.
Data dari organisasi konservasi internasional (IUCN) terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, di mana sejumlah besar spesies monyet dan kera kini berada dalam status rentan hingga terancam punah (Critically Endangered). Hilangnya satu spesies kunci saja bisa memicu efek domino yang merusak tatanan ekologis hutan secara permanen, yang kerusakannya mungkin tidak bisa diperbaiki lagi dalam waktu singkat.
Di Indonesia sendiri, kekayaan biodiversitas primata seperti Bekantan di Kalimantan atau Monyet Hitam Sulawesi menjadi aset negara yang harus dijaga ketat dari ancaman kepunahan. Upaya pelestarian ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita bersama untuk memastikan satwa endemik tersebut tidak hanya tinggal cerita bagi generasi mendatang.
Partisipasi publik dalam mendukung upaya konservasi bisa dimulai dari hal kecil, seperti berkomitmen untuk tidak memelihara primata secara ilegal di rumah sebagai hewan timangan. Edukasi mengenai bahaya perdagangan satwa liar juga perlu digalakkan secara masif agar permintaan pasar gelap terhadap bayi monyet bisa ditekan hingga ke titik nol.
Kita juga bisa berkontribusi dengan mendukung lembaga swadaya masyarakat atau taman nasional yang fokus pada rehabilitasi dan pelepasliaran monyet kembali ke habitat aslinya melalui donasi maupun aksi sukarelawan. Langkah sederhana seperti menyebarkan informasi positif dan fakta ilmiah di media sosial juga sudah menjadi kontribusi nyata untuk meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat.
Hari Monyet Sedunia sejatinya adalah pengingat keras bahwa manusia bukanlah satu-satunya penguasa bumi yang berhak menghabiskan sumber daya alam seenaknya tanpa memikirkan makhluk lain. Menjaga kelestarian monyet berarti kita juga sedang menjaga masa depan hutan yang menjadi paru-paru dunia dan benteng pertahanan terakhir melawan perubahan iklim.
Mari kita jadikan momentum 14 Desember ini sebagai titik balik untuk lebih menghargai kehidupan liar dan berhenti menganggap mereka sebagai hama pengganggu atau sekadar objek tontonan sirkus. Karena pada akhirnya, kesejahteraan manusia sangat bergantung pada seberapa baik dan bijak kita memperlakukan tetangga primata kita di alam semesta ini.