Celer.my.id – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menjadi primadona di lantai bursa setelah tercatat adanya aksi beli bersih atau net buy yang cukup masif dari investor asing dalam beberapa perdagangan terakhir. Tren akumulasi ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan pemodal global terhadap raksasa teknologi Indonesia ini mulai pulih seiring dengan perbaikan fundamental perusahaan yang semakin nyata.
Alasan utama di balik optimisme ini adalah keberhasilan manajemen dalam merealisasikan peta jalan menuju profitabilitas yang lebih cepat dari perkiraan awal pasar, terutama pasca restrukturisasi bisnis e-commerce. Laporan keuangan kuartal terakhir menunjukkan perbaikan signifikan pada pos EBITDA yang disesuaikan, membuktikan bahwa strategi efisiensi biaya yang ketat dan fokus pada bisnis inti benar-benar membuahkan hasil manis.
Investor asing tampaknya mulai melirik kembali potensi pertumbuhan jangka panjang GoTo yang kini tidak lagi bergantung pada strategi “bakar uang” untuk mengakuisisi pengguna baru. Model bisnis yang kini lebih sehat dengan margin kontribusi positif di lini On-Demand Services (ODS) menjadi daya tarik utama yang membuat valuasi saham ini kembali terlihat seksi di mata manajer investasi global.
Selain itu, kemitraan strategis dengan TikTok dalam pengelolaan Tokopedia dinilai memberikan dampak positif berupa aliran pendapatan yang stabil dari service fee tanpa harus menanggung beban operasional e-commerce yang berat. Para analis menilai langkah cerdas ini memungkinkan GoTo untuk fokus mengembangkan segmen teknologi finansial (fintech) yang memiliki potensi margin keuntungan jauh lebih tebal.
Namun, para pembaca dan investor ritel disarankan untuk tetap mengecek data transaksi harian terbaru melalui aplikasi sekuritas masing-masing, karena data aliran dana asing bersifat sangat dinamis dan bisa berubah setiap detiknya. Validitas mengenai jumlah spesifik dana asing yang masuk harus diverifikasi langsung melalui ringkasan broker atau broker summary yang resmi terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Sentimen makroekonomi global juga turut memberikan angin segar, di mana ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed membuat aset-aset di negara berkembang, termasuk saham teknologi di Indonesia, kembali dilirik sebagai instrumen investasi yang menjanjikan. Ketika suku bunga turun, biaya modal bagi perusahaan teknologi akan menjadi lebih murah, yang secara teoritis akan mendongkrak valuasi wajar perusahaan di masa depan.
Pertumbuhan unit bisnis GoTo Financial juga menjadi sorotan khusus, karena penetrasi layanan pinjaman digital dan dompet elektronik di Indonesia masih memiliki ruang tumbuh yang sangat luas. Integrasi ekosistem yang kuat antara layanan transportasi, pesan antar makanan, dan keuangan menciptakan siklus penggunaan yang sulit ditiru oleh kompetitor lain di pasar yang sama.
Meskipun grafik harga saham mulai menunjukkan tren kenaikan (uptrend), para pelaku pasar diingatkan untuk tidak terjebak dalam euforia sesaat atau Fear Of Missing Out (FOMO) tanpa analisa yang matang. Pergerakan harga saham teknologi seringkali memiliki volatilitas tinggi, sehingga manajemen risiko dan rencana trading yang disiplin tetap diperlukan untuk menjaga modal investasi Anda tetap aman.
Beberapa riset dari sekuritas besar memang telah merevisi target harga saham GOTO ke arah yang lebih positif, namun angka target tersebut hanyalah prediksi yang didasarkan pada asumsi kinerja di masa depan. Investor bijak sebaiknya menjadikan riset tersebut sebagai referensi tambahan, bukan satu-satunya landasan dalam mengambil keputusan jual atau beli saham.
Komitmen manajemen untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback pada periode tertentu juga sering dianggap sebagai sinyal bahwa harga saham saat ini dinilai undervalued oleh internal perusahaan sendiri. Langkah korporasi semacam ini biasanya sukses membangun kepercayaan pasar bahwa perusahaan memiliki arus kas yang kuat dan peduli terhadap nilai pemegang saham.
Kesimpulannya, kembalinya asing ke saham GoTo bukanlah kejadian kebetulan, melainkan respon logis terhadap transformasi bisnis yang kini lebih berorientasi pada pencetakan laba bersih. Perjalanan menuju profitabilitas berkelanjutan memang masih panjang, namun lampu hijau dari investor global setidaknya menunjukkan bahwa GoTo sedang berada di jalur yang tepat.