Celer.my.id – Manchester United kembali harus menelan pil pahit saat menjamu Brighton & Hove Albion di Old Trafford pada laga lanjutan Premier League, Minggu (12/1/2026). Skor akhir 1-3 menjadi bukti nyata betapa rapuhnya pertahanan tim tuan rumah di hadapan tim tamu yang tampil sangat disiplin dan taktis sepanjang 90 menit.
Kekecewaan mendalam terlihat jelas dari wajah para pendukung Setan Merah yang mulai meninggalkan stadion bahkan sebelum peluit panjang dibunyikan oleh wasit. Teriakan ketidakpuasan atau booing menggema di seluruh penjuru stadion sebagai bentuk protes keras atas performa tim yang dinilai jauh di bawah standar klub sebesar United.
Brighton yang datang sebagai tim tamu justru tampil sangat percaya diri dengan memegang kendali permainan di lini tengah sejak menit-menit awal babak pertama dimulai. Pasukan “Si Burung Camar” sukses membuka keunggulan lewat aksi individu memukau Kaoru Mitoma yang gagal diantisipasi oleh koordinasi lini belakang United pada menit ke-15.
Belum sempat bangkit dari keterkejutan gol pertama, gawang Andre Onana harus kembali bergetar sepuluh menit kemudian akibat serangan balik cepat yang sangat mematikan. Evan Ferguson dengan sangat dingin menuntaskan umpan tarik akurat dari sisi sayap kanan, membuat papan skor berubah cepat menjadi 0-2 untuk keunggulan tim tamu.
Manchester United sempat membuka sedikit asa untuk bangkit ketika Bruno Fernandes berhasil memperkecil ketertinggalan lewat titik putih menjelang turun minum babak pertama. Gol penalti tersebut tercipta setelah Rasmus Hojlund dilanggar cukup keras di kotak terlarang, memberikan sedikit nafas bagi tuan rumah untuk masuk ke ruang ganti dengan skor 1-2.
Memasuki babak kedua, United mencoba meningkatkan intensitas serangan dengan memasukkan beberapa pemain bertipe ofensif demi mengejar gol penyeimbang yang sangat dibutuhkan. Sayangnya, alih-alih mencetak gol, mereka justru sering kehilangan bola di area krusial yang memudahkan Brighton untuk melancarkan serangan balik berbahaya ke jantung pertahanan.
Petaka sesungguhnya bagi publik tuan rumah datang di menit ke-78, ketika Joao Pedro yang masuk sebagai pemain pengganti berhasil mencetak gol ketiga bagi Brighton. Gol ini seolah membunuh sisa semangat juang para pemain United yang energinya sudah terkuras habis mengejar ketertinggalan sepanjang pertandingan yang melelahkan tersebut.
Lini pertahanan Manchester United terlihat sangat kocar-kacir menghadapi transisi cepat yang diperagakan oleh anak-anak asuh pelatih Brighton yang bermain sangat cair dan padu. Duet bek tengah United sering kali kalah langkah dan gagal melakukan koordinasi jebakan offside yang efektif untuk meredam kecepatan para penyerang lawan yang lincah.
Kekalahan menyakitkan ini membuat posisi Manchester United semakin terpuruk di papan tengah klasemen sementara dan semakin sulit untuk menembus zona Liga Champions musim depan. Tekanan terhadap manajer tim kini dipastikan semakin berat, mengingat manajemen klub dan fans menargetkan perbaikan performa yang signifikan di awal tahun 2026 ini.
Bagi Brighton, kemenangan meyakinkan di Old Trafford ini menjadi sejarah manis yang mempertegas status mereka sebagai “kuda hitam” yang paling menakutkan di Liga Inggris saat ini. Mereka berhasil membuktikan bahwa taktik kolektif dan kerja keras tim mampu mengalahkan nama besar serta materi pemain mahal yang dimiliki oleh tuan rumah.
Seusai pertandingan, para pemain United tampak tertunduk lesu dan enggan berlama-lama di lapangan untuk menyapa para penonton yang masih tersisa di tribun stadion. Situasi ruang ganti dikabarkan memanas karena hasil negatif ini memperpanjang tren buruk mereka dalam lima pertandingan terakhir di semua kompetisi yang diikuti.
Kini, Manchester United harus segera melupakan mimpi buruk ini dan melakukan evaluasi besar-besaran di semua lini jika tidak ingin musim mereka berakhir dengan bencana total. Pertandingan selanjutnya akan menjadi ujian hidup dan mati untuk membuktikan apakah mentalitas pemenang itu masih ada di Old Trafford atau sudah benar-benar hilang.