Fenomena Healing Anak Muda: Gaya Hidup Sehat atau Tekanan Sosial Terselubung?

Celer.my.id – Istilah healing kini semakin akrab di kalangan anak muda dan remaja Indonesia. Aktivitas seperti ngopi cantik, staycation, nonton konser, me time, naik gunung, hingga ke curug kerap dijadikan cara melepas penat dari rutinitas tugas, pekerjaan dan maraknya media sosial.

Tren ini berkembang pesat seiring meningkatnya kesadaran anak muda terhadap kesehatan mental. Banyak yang menganggap healing sebagai bentuk self care untuk menjaga keseimbangan hidup.

Di satu sisi, healing membawa dampak positif bagi kesehatan fisik dan psikologis. Aktivitas seperti olahraga, mendaki gunung, atau sekadar meluangkan waktu sendiri dinilai mampu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati.

Ngopi santai atau staycation juga sering dimanfaatkan sebagai momen refleksi diri. Anak muda merasa punya ruang untuk beristirahat tanpa tekanan pekerjaan maupun akademik.

Namun, tren healing tidak selalu berdampak positif bagi semua orang. Media sosial turut berperan besar dalam membentuk standar gaya hidup yang terlihat “ideal”.

Konten liburan, konser, dan kafe estetik kerap memicu rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Akibatnya, sebagian anak muda merasa terdorong ikut tren meski kondisi finansial tidak mendukung.

Healing yang awalnya bertujuan menenangkan diri justru berubah menjadi beban baru. Tekanan untuk tampil produktif sekaligus bahagia membuat makna istirahat menjadi kabur.

Dari sisi ekonomi, tren healing mendorong pertumbuhan sektor gaya hidup dan pariwisata. Kafe, destinasi wisata alam, hingga penyelenggara konser menikmati peningkatan minat dari pasar anak muda.

UMKM lokal juga ikut merasakan dampak positif dari tren ini. Banyak pelaku usaha menyesuaikan konsep bisnis agar selaras dengan kebutuhan healing generasi muda.

Meski demikian, pola konsumtif menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Pengeluaran impulsif demi mengikuti tren healing berpotensi mengganggu kestabilan keuangan jangka panjang.

Pengamat gaya hidup menilai healing seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing individu. Tidak semua bentuk healing harus mahal atau dipamerkan di media sosial.

Istirahat yang berkualitas bisa dilakukan dengan cara sederhana, seperti berolahraga ringan, membaca buku, atau membatasi penggunaan gawai. Intinya adalah memberi ruang bagi diri sendiri untuk pulih.

 

Fenomena healing pada akhirnya mencerminkan perubahan cara anak muda memaknai kebahagiaan. Tren ini bisa menjadi positif jika dijalani secara sadar, namun berisiko jika hanya sekadar ikut-ikutan.

Leave a Comment