CIREBON – Tradisi munggahan menjelang bulan suci Ramadan dimanfaatkan masyarakat untuk berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati. Sejak beberapa hari terakhir, jumlah peziarah terlihat meningkat dibandingkan hari biasa.
Peziarah datang dari berbagai daerah, baik dari Cirebon maupun luar kota. Mereka memanfaatkan momentum munggahan untuk berdoa dan mempersiapkan diri menyambut Ramadan.
Gunung Jati menjadi salah satu tujuan utama masyarakat dalam menjalankan tradisi munggahan. Lokasi ini dikenal sebagai pusat ziarah religi yang ramai dikunjungi setiap menjelang bulan puasa.
Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas peziarah meningkat sejak pagi hari. Arus kedatangan masih terus berlangsung hingga sore menjelang malam.
Para peziarah umumnya datang bersama keluarga. Mereka memanjatkan doa dan melakukan ziarah sebagai bentuk refleksi diri sebelum memasuki bulan Ramadan.
Selain berdoa, sebagian peziarah juga memanfaatkan momen ini untuk bersilaturahmi. Tradisi munggahan dinilai sebagai waktu yang tepat untuk mempererat hubungan keluarga.
Petugas di kawasan Gunung Jati terlihat bersiaga untuk mengatur arus pengunjung. Pengaturan dilakukan agar aktivitas ziarah tetap berjalan tertib dan nyaman.
Area parkir dan jalur pejalan kaki juga tampak lebih padat dari biasanya. Kondisi ini menjadi ciri khas meningkatnya aktivitas ziarah jelang Ramadan.
Tradisi munggahan sendiri telah lama dilakukan masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Tradisi ini menjadi bagian dari budaya lokal yang masih terus dilestarikan.
Munggahan dimaknai sebagai bentuk persiapan batin sebelum menjalankan ibadah puasa. Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana untuk membersihkan hati dan memperbanyak doa.
Sejumlah pedagang di sekitar kawasan Gunung Jati turut merasakan dampak dari meningkatnya jumlah peziarah. Penjualan makanan, minuman, dan perlengkapan ibadah mengalami kenaikan.
Kondisi ini membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Tradisi munggahan dinilai memberikan perputaran ekonomi jelang Ramadan.
Pengelola kawasan mengimbau peziarah untuk tetap menjaga kebersihan. Pengunjung juga diminta menjaga ketertiban selama berada di area makam.
Peziarah diharapkan mematuhi aturan yang berlaku. Hal ini penting demi kenyamanan bersama dan kelancaran aktivitas ziarah.
Dengan meningkatnya jumlah peziarah, tradisi munggahan di Gunung Jati kembali menunjukkan eksistensinya. Tradisi ini menjadi bukti kuatnya nilai religi dan budaya di tengah masyarakat.
Momentum munggahan diharapkan dapat menjadi pengingat pentingnya persiapan diri menjelang Ramadan. Masyarakat pun diajak untuk tetap menjaga nilai kebersamaan dan ketertiban.