Celer.my.id – Kementerian Kesehatan RI melaporkan peningkatan signifikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di berbagai wilayah Indonesia memasuki awal tahun 2026 ini. kenaikan ini dipicu oleh cuaca yang mempercepat siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti di area pemukiman warga.
Berdasarkan data terbaru, tercatat ada lebih dari 35.000 kasus secara nasional dengan angka kematian mencapai 180 jiwa dalam dua bulan terakhir. Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur menjadi wilayah dengan kontribusi kasus tertinggi yang memerlukan penanganan medis secara intensif.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes menekankan pentingnya masyarakat mengenali fase kritis penyakit ini. Di mana demam turun drastis namun sebenarnya tubuh sedang mengalami kebocoran plasma.
Masyarakat dihimbau untuk segera melakukan pemeriksaan darah jika demam tidak kunjung reda dalam waktu dua hari berturut-turut. Diagnosis dini sangat menentukan keberhasilan pengobatan sebelum pasien jatuh ke kondisi Dengue Shock Syndrome (DSS) yang mematikan.
Selain penanganan medis, upaya pencegahan melalui gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) tetap menjadi senjata utama. Langkah sederhana seperti membersihkan wadah penampungan air secara rutin terbukti efektif memutus rantai penularan di lingkungan rumah.
Pemerintah juga mulai mendistribusikan teknologi nyamuk ber-Wolbachia di beberapa kota besar untuk menekan populasi nyamuk pembawa virus. Program ini diharapkan dapat menurunkan angka insidensi penyakit secara jangka panjang melalui intervensi biologis yang aman bagi ekosistem.