Celer.my.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, berbagai Tempat Pemakaman Umum (TPU) di kota-kota besar mulai diramaikan oleh ribuan peziarah sejak pagi hari. Tradisi tahunan yang akrab disebut “nyekar” ini menjadi momen penting bagi umat Muslim untuk mengirimkan doa terbaik kepada orang tua atau kerabat yang telah berpulang.
Pemandangan di area pemakaman tampak berbeda dari hari biasa, di mana jalanan akses masuk sering kali macet oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Antusiasme masyarakat ini menunjukkan bahwa ziarah kubur bukan sekadar ritual menabur bunga, melainkan kebutuhan batin untuk menyambut bulan puasa dengan hati yang lebih tenang.
Aroma wangi bunga mawar dan air mawar begitu terasa saat kita melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak di antara nisan-nisan yang berjajar rapi. Banyak keluarga terlihat duduk bersimpuh khusyuk di sisi makam, melantunkan ayat suci Al-Qur’an dan tahlil secara bergantian.
Bagi sebagian besar peziarah, momen ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri mengenai singkatnya kehidupan di dunia. Mengunjungi rumah masa depan ini secara tidak langsung melembutkan hati yang mungkin sempat mengeras karena kesibukan duniawi yang tak ada habisnya.
Para pemuka agama sering mengingatkan bahwa esensi utama dari ziarah kubur adalah Zikr al-Maut atau mengingat kematian yang pasti akan menghampiri setiap makhluk. Dengan mengingat kematian, diharapkan ibadah puasa yang akan dijalani nanti menjadi lebih berkualitas dan penuh keikhlasan.
Selain aspek spiritual, tradisi ini juga menghidupkan kembali kenangan manis bersama almarhum/ah yang mungkin sudah lama terkubur rutinitas harian. Mendoakan mereka yang sudah tiada menjadi jembatan kasih sayang yang tak terputus meski kini sudah berada di alam yang berbeda.
Di sisi lain, perputaran ekonomi mikro terlihat di sekitar area pemakaman berkat adanya para penjual bunga musiman dan penyedia jasa bersih makam. Para pedagang kembang mengaku omset mereka bisa naik berkali-kali lipat saat musim “munggahan” atau jelang puasa seperti sekarang.
Namun, penting bagi kita untuk tetap menjaga adab dan etika selama berada di area pemakaman agar nilai ibadahnya tidak berkurang. Hindarilah perbuatan yang berlebihan seperti meratap histeris atau bahkan meminta-minta permohonan kepada nisan kuburan, karena doa sejatinya hanya ditujukan kepada Tuhan.
Kebersihan area makam juga menjadi poin penting, di mana peziarah dihimbau untuk tidak meninggalkan sampah plastik bekas pembungkus bunga sembarangan. Membersihkan rumput liar di sekitar pusara memang baik, namun menjaga kebersihan lingkungan makam secara umum jauh lebih terpuji.
Menutup rangkaian ziarah, biasanya keluarga akan saling bermaafan satu sama lain sebelum kembali ke rumah masing-masing. Hal ini sejalan dengan semangat Ramadan yang menuntut kesucian hati, baik hubungan dengan Sang Pencipta maupun hubungan dengan sesama manusia.
Mari kita jadikan ziarah kubur tahun ini sebagai titik balik untuk memperbaiki diri dan menata niat sebelum memasuki gerbang Ramadan. Semoga dengan hati yang bersih dan jiwa yang ingat akan akhirat, kita bisa meraih kemenangan yang sejati di hari raya nanti.
Penulis: Alya Siti Aisyah