Celer.my.id – Dunia sepak bola tidak akan pernah kehabisan kata-kata untuk memuja Edson Arantes do Nascimento, atau yang lebih dikenal sebagai Pelé.
Meski sosoknya telah berpulang pada akhir 2022 lalu, warisan abadi sang legenda tetap hidup dan menjadi standar tertinggi bagi setiap pemain di tahun 2026 ini.
Siapa sangka, pria yang dijuluki “O Rei” atau Sang Raja ini mengawali hidupnya dari kemiskinan ekstrem di Três Corações, Minas Gerais, Brasil. Ia pernah bekerja sebagai penyemir sepatu demi membantu perekonomian keluarga dan bermain bola menggunakan kaus kaki yang diisi gumpalan kertas koran bekas karena tak mampu membeli bola asli.
Titik balik hidupnya bermula dari sebuah janji emosional kepada sang ayah, Dondinho, yang menangis saat Brasil kalah di final Piala Dunia 1950 melawan Uruguay.
Pelé kecil dengan berani bersumpah akan memenangkan trofi Piala Dunia untuk ayahnya suatu hari nanti, sebuah janji yang kelak ia tepati bukan hanya sekali, tapi tiga kali.
Bakat alamnya yang luar biasa kemudian ditemukan oleh Santos FC, klub yang kemudian ia bawa menjadi salah satu tim paling ditakuti di muka bumi pada eranya.
Di usia yang masih sangat belia, 17 tahun, ia sudah mengguncang dunia dengan mencetak gol indah di final Piala Dunia 1958 Swedia, menjadikannya juara dunia termuda saat itu.
Rekor demi rekor terus ia pecahkan, termasuk pencapaian fenomenal sebagai satu-satunya pemain dalam sejarah yang berhasil mengangkat trofi Piala Dunia sebanyak tiga edisi (1958, 1962, dan 1970).
Tim Brasil tahun 1970 yang dipimpinnya bahkan sering disebut sebagai kesebelasan terbaik yang pernah memainkan permainan indah ini di planet bumi.
Perdebatan mengenai jumlah gol resminya memang selalu menjadi topik hangat, namun Guinness World Records pernah mencatat angka fantastis lebih dari 1.200 gol sepanjang kariernya.
Momen gol ke-1.000 atau O Milésimo yang dicetak di Stadion Maracanã melalui titik putih menjadi salah satu peristiwa paling sakral dalam sejarah olahraga nasional Brasil.
Tidak hanya jago kandang, Pelé juga memperkenalkan sepak bola ke publik Amerika Serikat saat bergabung dengan New York Cosmos di penghujung kariernya.
Kharismanya yang begitu besar bahkan dikabarkan pernah membuat pihak yang bertikai dalam perang saudara di Nigeria sepakat melakukan gencatan senjata 48 jam demi menontonnya bermain.
Di luar lapangan hijau, Pelé dikenal sebagai duta global yang memperjuangkan perdamaian dan kesejahteraan anak-anak melalui olahraga di bawah naungan PBB dan FIFA.
Senyum khasnya dan sikap rendah hati membuat ia diterima dengan hangat oleh semua kalangan, mulai dari pemimpin negara adidaya hingga anak-anak jalanan di favela.
Kepergiannya akibat komplikasi kanker usus besar meninggalkan duka mendalam, namun juga perayaan atas hidup yang didedikasikan sepenuhnya untuk si kulit bundar.
Pemerintah Brasil bahkan menetapkan masa berkabung nasional, menegaskan statusnya sebagai harta karun negara yang tak ternilai harganya bagi identitas bangsa Samba.
Hari ini, nama Pelé bukan sekadar merujuk pada seorang atlet, melainkan sinonim dari kesempurnaan dan keindahan sepak bola itu sendiri atau Jogo Bonito.
Generasi baru Brasil seperti Endrick atau Vinicius Jr. terus menjadikan jejak langkah sang raja sebagai pedoman utama dan inspirasi terbesar dalam berkarier di level tertinggi Eropa.
Stadion-stadion di seluruh dunia, termasuk di markas besar FIFA, kini banyak yang mengabadikan namanya sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas jasa-jasanya.
Kisah bocah penyemir sepatu yang menjadi raja dunia ini akan terus diceritakan turun-temurun sebagai dongeng nyata yang paling inspiratif dalam sejarah olahraga.