Celer.my.id – Dunia sepak bola tidak akan pernah melupakan sosok Diego Armando Maradona, legenda abadi Argentina yang memiliki julukan El Pibe de Oro atau Si Anak Emas.
Kehebatannya mengolah si kulit bundar dengan kaki kiri magisnya telah menempatkannya sejajar dengan dewa-dewa sepak bola dalam sejarah olahraga ini.
Lahir di daerah kumuh Villa Fiorito, Buenos Aires, bakat alam Maradona sudah terlihat sejak usia sangat dini saat ia bergabung dengan klub lokal Argentinos Juniors.
Debut profesionalnya di usia 15 tahun langsung mencuri perhatian publik Argentina yang haus akan sosok pahlawan baru di lapangan hijau.
Kariernya semakin melesat saat ia pindah ke klub impian masa kecilnya, Boca Juniors, dan berhasil mempersembahkan gelar juara liga domestik sebelum akhirnya hijrah ke Eropa.
Barcelona kemudian memecahkan rekor transfer dunia saat itu untuk memboyongnya ke Spanyol, meskipun masa-masanya di sana diwarnai cedera parah dan perselisihan dengan manajemen.
Puncak karier klubnya justru terjadi saat ia bergabung dengan Napoli, sebuah klub Italia selatan yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam peta persaingan Serie A yang didominasi klub kaya utara.
Di kota inilah Maradona dipuja bak juru selamat karena berhasil membawa klub tersebut meraih Scudetto pertama dalam sejarah mereka dan Piala UEFA, mengangkat harga diri warga Naples.
Di level internasional, Piala Dunia 1986 di Meksiko menjadi panggung tunggal pertunjukan jenius Maradona saat memimpin Timnas Argentina menjadi juara dunia yang tak terkalahkan.
Laga perempat final melawan Inggris menjadi momen paling ikonik dalam sejarah, di mana ia mencetak gol kontroversial “Tangan Tuhan” dan “Gol Abad Ini” dalam satu pertandingan yang sama.
Gaya bermainnya dikenal dengan pusat gravitasi tubuh yang rendah, memungkinkannya meliuk-liuk melewati hadangan bek lawan dengan bola yang seolah lengket di kaki kirinya.
Visi bermain dan kepemimpinannya di lapangan membuat rekan-rekannya selalu tampil 100 persen saat bermain bersamanya, menjadikannya kapten yang sangat disegani kawan maupun lawan.
Sayangnya, kehidupan di luar lapangan sang maestro dipenuhi dengan kontroversi dan gaya hidup yang tidak sehat, terutama ketergantungannya pada obat-obatan terlarang yang merusak kariernya.
Sanksi larangan bermain akibat tes doping positif sempat menghancurkan momentumnya, termasuk insiden pemulangan paksa yang memalukan dari Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.
Setelah gantung sepatu, Maradona mencoba peruntungan di dunia kepelatihan, termasuk menangani Timnas Argentina pada Piala Dunia 2010, namun prestasinya tak secemerlang saat ia masih aktif bermain.
Sosoknya yang emosional dan blak-blakan seringkali memicu polemik dengan media atau federasi sepak bola, namun kecintaan rakyat Argentina padanya tak pernah luntur sedikitpun.
Dunia berduka hebat ketika Maradona meninggal dunia pada November 2020 akibat serangan jantung, memicu masa berkabung nasional di Argentina selama tiga hari berturut-turut.
Stadion San Paolo di Naples bahkan langsung berganti nama menjadi Stadion Diego Armando Maradona sebagai bentuk penghormatan abadi atas jasa-jasanya bagi kota tersebut.
Hingga tahun 2026 ini, perdebatan mengenai siapa yang lebih hebat antara dirinya dan Lionel Messi masih sering terdengar di warung kopi hingga forum diskusi online.
Namun satu hal yang pasti, karisma, pemberontakan, dan dampak kultural yang dibawa Maradona bagi rakyat Argentina tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun.