Celer.my.id – Tren pemotretan prewedding belakangan ini mengalami pergeseran menarik di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z.
Bukannya memilih konsep modern minimalis yang sempat booming, mereka justru kembali melirik akar budaya melalui konsep adat Jawa yang dikemas lebih sinematik.
Bagi banyak pasangan muda, mengenakan kain jarik dan beskap bukan lagi sekadar formalitas upacara adat yang kaku.
Mereka melihat busana tradisional sebagai simbol identitas yang memiliki nilai estetika tinggi saat ditangkap oleh lensa kamera digital maupun analog.
Fenomena ini membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya lokal tidak luntur ditelan zaman, melainkan bertransformasi menjadi tren yang lebih fresh.
Gen Z berhasil membawa elemen-elemen keraton keluar dari pakem lama menuju gaya visual yang lebih “bercerita” dan puitis.
Lokasi pemotretan pun kini beralih dari studio foto ber-AC menuju bangunan-bangunan bersejarah yang memiliki arsitektur autentik.
Rumah joglo tua, sudut benteng, hingga pasar tradisional menjadi latar favorit untuk menciptakan kesan nostalgia yang mendalam namun tetap terlihat high-fashion.
Permainan detail menjadi kunci utama mengapa konsep Jawa ini tetap diminati oleh mereka yang lahir di era digital.
Penggunaan aksesori seperti sanggul simpel tanpa banyak hiasan atau keris yang diselipkan secara santai memberikan kesan elegan yang tidak berlebihan.
Selain faktor visual, ada kedekatan emosional yang ingin dibangun oleh pasangan muda saat memilih tema tradisional ini.
Mereka merasa bahwa memulai perjalanan rumah tangga dengan menghargai warisan leluhur memberikan makna spiritual yang lebih kuat bagi hubungan mereka.
Beberapa fotografer spesialis prewedding mengungkapkan bahwa permintaan untuk tema “Jawa Klasik” meningkat tajam dalam setahun terakhir.
Menariknya, para klien muda ini sangat detail dalam riset, mulai dari pemilihan motif batik hingga filosofi di balik arah hadap tubuh.
Media sosial seperti TikTok dan Pinterest sangat berpengaruh besar dalam mempopulerkan estetika “Jawa Kuno” ini ke ranah global.
Foto-foto yang dihasilkan seringkali diedit dengan tone warna yang hangat dan grainy, memberikan kesan seolah-olah diambil dari arsip foto keluarga tahun 1970-an.
Transformasi ini menunjukkan bahwa tradisi tidak akan pernah mati selama generasi penerusnya mampu memberikan ruang untuk inovasi.
Gen Z tidak sedang meninggalkan modernitas, mereka justru menggunakannya sebagai alat untuk mengabadikan kekayaan budaya dalam bingkai yang lebih indah.
Pada akhirnya, pernikahan bukan sekadar tentang seberapa mewah pesta tersebut digelar di hotel berbintang.
Ini adalah tentang bagaimana sebuah identitas diri dan kebanggaan akan asal-usul bisa dipamerkan secara berkelas melalui karya seni fotografi.
Penulis: Azhimah Nurfifah Maysa