Viral Konten Dwi Sasetyaningtyas: Eks Penerima Beasiswa LPDP Minta Maaf Usai Hujatan Publik

Celer.my.id – Dwi Sasetyaningtyas, mantan penerima beasiswa LPDP, menjadi sorotan publik setelah unggahan video tentang status kewarganegaraan anaknya viral dan menuai kritik tajam di media sosial.

Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada warganet.

Video itu awalnya menunjukkan momen saat Tyas memperlihatkan dokumen yang menyatakan anaknya resmi menjadi Warga Negara Inggris (WNA).

Ia tampak bahagia dan menyampaikan harapannya soal masa depan anaknya.

Ucapan tersebut, termasuk kalimat “cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan,” langsung memicu reaksi keras dari banyak netizen.

Banyak yang menilai pernyataannya melecehkan identitas kebangsaan Indonesia.

Sejumlah komentar di platform online bahkan mengaitkan statusnya sebagai penerima dana pendidikan negara dengan sikapnya, karena LPDP dibiayai oleh anggaran negara.

Kritikan ini muncul kuat di berbagai akun media sosial.

Tak lama setelah hujatan itu, Tyas menghapus video dari akun pribadinya dan menyampaikan klarifikasi resmi.

Ia mengakui bahwa ucapannya berpolemik dan menimbulkan salah paham.

Dalam permintaan maafnya, Tyas menyatakan tidak pernah bermaksud merendahkan Indonesia atau identitas sebagai Warga Negara Indonesia.

Ia menegaskan tetap bangga menjadi WNI dan mencintai tanah airnya.

Tyas menjelaskan bahwa pernyataannya lahir dari rasa kelelahan dan kekecewaan pribadi, tetapi ia menyadari bahwa hal itu kurang tepat jika disampaikan secara publik hingga melukai perasaan banyak pihak.

Menurut beberapa netizen yang responsif terhadap polemik ini, kritik itu juga terkait dengan kewajiban penerima beasiswa LPDP yang semestinya kembali dan berkontribusi di Indonesia pasca menyelesaikan studi.

Kasus ini kemudian menimbulkan perdebatan lebih luas tentang tanggung jawab penerima beasiswa negara terhadap bangsa dan cara mereka menyampaikan pengalaman pribadi di ruang publik.

Di luar polemik, Tyas dikenal sebagai pendiri komunitas yang bergerak pada gaya hidup ramah lingkungan dan edukasi pengelolaan sampah, serta aktif berbagi konten edukatif seputar lingkungan dan keluarga.

Bagaimanapun, peristiwa ini menjadi refleksi penting bagi publik dan figur publik tentang cara berkomunikasi yang sensitif terhadap nilai kebangsaan dalam media sosial.

Penulis: Najihatun Fadlliyah

Leave a Comment