Celer.my.id Media sosial belakangan ini diramaikan oleh tren konten bertajuk Marriage Is Scary yang memicu diskusi panas.
Fenomena ini bermunculan setelah banyaknya unggahan viral mengenai perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga beban finansial pasca menikah.
Bagi generasi Z, media sosial bukan sekadar hiburan, melainkan jendela realita yang seringkali memperlihatkan sisi gelap pernikahan.
Paparan informasi yang intens mengenai kegagalan rumah tangga selebritas maupun orang biasa menciptakan trauma sekunder bagi mereka yang belum menikah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pernikahan di Indonesia memang terus mengalami penurunan signifikan dalam sedekade terakhir.
Pada tahun 2023, jumlah pernikahan tercatat sebanyak 1,5 juta, turun sekitar 28% dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 2,2 juta.
Faktor ekonomi menjadi alasan utama yang kerap muncul dalam kolom komentar unggahan viral tersebut.
Kenaikan harga properti yang tidak sebanding dengan upah minimum membuat Gen Z merasa pernikahan adalah beban finansial yang berat.
Selain urusan dompet, kesehatan mental juga menjadi pertimbangan krusial yang sering dibahas oleh para netizen muda.
Mereka cenderung lebih kritis dalam memilih pasangan karena enggan terjebak dalam hubungan toksik yang merusak kesejahteraan emosional mereka.
Ketakutan akan kehilangan kebebasan individu dan aktualisasi diri juga menjadi narasi yang kuat di platform seperti TikTok dan X.
Banyak dari mereka yang memilih untuk fokus pada karier dan hobi daripada harus membagi waktu dengan urusan domestik yang rumit.
Pakar sosiologi menilai bahwa standar kebahagiaan Gen Z telah bergeser dari status pernikahan menuju pencapaian personal.
Menikah tidak lagi dianggap sebagai pencapaian hidup utama, melainkan sebuah pilihan opsional yang memerlukan persiapan sangat matang.
Melihat arus informasi yang begitu cepat, edukasi mengenai realita pernikahan yang seimbang sangat diperlukan agar tidak terjadi mis informasi.
Media sosial seharusnya bisa menjadi ruang diskusi sehat, bukan sekadar tempat menyebar ketakutan tanpa solusi yang jelas bagi anak muda.
Pemerintah dan lembaga terkait diharapkan mulai memperhatikan tren penurunan angka pernikahan ini sebagai isu serius bagi demografi masa depan.
Persiapan pranikah yang menyentuh aspek psikologis dan finansial kini menjadi jauh lebih relevan dibandingkan sekadar pesta yang mewah.
Pada akhirnya, ketakutan Gen Z adalah bentuk kehati-hatian dalam mengambil keputusan besar yang akan mengubah seluruh alur hidup mereka.
Memilih untuk menunda atau tidak menikah sama sekali kini dianggap sebagai bentuk kedaulatan atas diri sendiri di tengah dunia yang makin kompleks.
Penulis: Azhima Nurfifah Maysa