Celer.my.id – Grup vokal wanita asal Indonesia, no na, kian memantapkan posisinya sebagai kekuatan baru dalam industri musik internasional di bawah payung label 88rising.
Kehadiran empat talenta muda ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan representasi kuat identitas lokal yang mampu berbicara banyak di level global.
Beranggotakan Baila Fauri, Christy Gardena, Shazfa Adesya, dan Esther Geraldine, grup ini pertama kali mencuri perhatian melalui debut single bertajuk “Shoot”.
Tidak hanya mengandalkan estetika visual, mereka secara berani memasukkan unsur budaya seperti instrumen gamelan dan lanskap sawah yang sempat memicu perdebatan hangat di kalangan penggemar musik mancanegara.
Keberhasilan mereka menembus jutaan pendengar di Spotify membuktikan bahwa kualitas vokal dan sinkronisasi tarian mereka telah memenuhi standar industri musik Amerika Serikat.
Pencapaian ini diperkuat dengan masuknya nama no na dalam daftar bergengsi “The NME 100: Essential Emerging Artists 2026”, sebuah pengakuan yang jarang didapatkan oleh grup pendatang baru dari Asia Tenggara.
Strategi 88rising dalam mengorbitkan no na terlihat sangat matang dengan memanfaatkan panggung festival besar seperti Head In The Clouds (HITC).
Penampilan mereka yang enerjik namun tetap mempertahankan keaslian budaya Indonesia menjadi daya tarik utama yang membedakan mereka dari dominasi grup pop asal Korea Selatan.
Meski sempat mendapat cibiran dari sebagian netizen luar negeri terkait konsep visual yang dianggap terlalu sederhana, no na justru membalasnya dengan prestasi nyata lewat single terbaru “Rollerblade”.
Lagu tersebut meledak di berbagai platform media sosial, bahkan sempat digunakan oleh beberapa negara di dunia yang mengapresiasi keunikan aransemen musik mereka.
Kini, no na telah menjadi ikon baru yang membangkitkan kebanggaan kolektif bagi para penikmat musik di tanah air.
Perjalanan mereka masih sangat panjang, namun fondasi yang mereka bangun melalui album “Orchids (Lullabies)” telah memberikan sinyal bahwa Indonesia siap menjadi pemain utama di panggung musik dunia.
Penulis: Azhimah Nurfifah Maysa