Celer.my.id – Memasuki bulan suci Ramadhan, kesibukan masyarakat menjelang waktu berbuka puasa seringkali terfokus pada persiapan takjil dan hidangan berat di atas meja.
Namun, di balik keriuhan tersebut, esensi utama dari mengakhiri ibadah puasa seharian penuh terletak pada pembacaan niat dan doa yang tulus.
Para ulama menekankan bahwa membaca doa buka puasa bukan sekadar tradisi lisan, melainkan bentuk syukur hamba kepada Sang Pencipta.
Mengucapkan niat dengan kesadaran penuh dipercaya dapat menyempurnakan pahala ibadah yang telah dijalani sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Pakar literasi Islam menyebutkan bahwa perbedaan doa tersebut sebenarnya bukanlah masalah besar yang harus diperdebatkan oleh umat.
Keduanya memiliki esensi yang sama, yakni mengakui bahwa kekuatan untuk berpuasa datangnya hanya dari Allah SWT semata.
Momentum berbuka juga menjadi waktu yang sangat mustajab atau waktu yang sangat baik untuk memanjatkan doa-doa pribadi lainnya.
Banyak orang yang terburu-buru menyantap hidangan sehingga melupakan sejenak bahwa saat itu adalah waktu terbaik untuk memohon keberkahan hidup.
Selain urusan spiritual, secara kesehatan pun dianjurkan untuk tidak langsung menyantap makanan porsi besar saat adzan berkumandang.
Memulai dengan air putih dan buah kurma sesuai sunnah Rasulullah dapat membantu sistem pencernaan beradaptasi kembali setelah beristirahat lama.
Fenomena berburu takjil atau “war takjil” yang belakangan viral di media sosial memang menambah semarak suasana Ramadhan di berbagai kota.
Kendati demikian, keramaian tersebut diharapkan tidak mengalihkan fokus utama seorang muslim untuk tetap khusyuk saat melafalkan niat berbuka.
Tradisi berbuka bersama juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antar keluarga, teman, hingga rekan kerja yang mungkin jarang bertemu.
Dalam pertemuan tersebut, momen membaca doa bersama sebelum makan menjadi pemandangan indah yang memperkuat identitas religius masyarakat kita.
Pemerintah melalui Kementerian Agama terus menghimbau agar masyarakat menjaga toleransi dan kesederhanaan dalam merayakan momen berbuka puasa di ruang publik.
Kesederhanaan dalam berbuka justru mencerminkan nilai asli dari puasa, yaitu pengendalian diri dari segala bentuk nafsu dan kemewahan.
Menutup hari dengan niat yang benar akan memberikan ketenangan batin sekaligus motivasi untuk menyambut ibadah salat tarawih dan sahur keesokan harinya.
Semoga setiap tegukan air dan suapan makanan yang dinikmati saat berbuka membawa keberkahan bagi siapa saja yang menjalankannya dengan ikhlas.
Penulis: Azhimah Nurfifah Maysa