Belanja Makin Gampang, Dompet Bisa Jebol: Pengaruh Aplikasi Belanja pada Kebiasaan Konsumen

Celer.my.id – Dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan belanja masyarakat Indonesia berubah drastis karena semakin banyak orang yang berbelanja lewat aplikasi di ponsel. Aplikasi belanja seperti marketplace dan e-commerce kini bukan cuma tempat belanja kebutuhan sehari-hari, tapi juga wadah promo besar-besaran yang kadang bikin orang tergoda untuk belanja lebih dari yang awalnya direncanakan.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa fitur-fitur di aplikasi belanja seperti diskon besar, flash sale, dan rekomendasi produk bisa mendorong orang melakukan pembelian spontan tanpa pikir panjang. Contohnya, fitur rekomendasi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan diskon besar nyata-nyata berpengaruh terhadap pengeluaran impulsif, terutama di kalangan muda yang sudah dekat dengan teknologi.

Di sisi lain, kemudahan akses lewat aplikasi juga bisa bikin orang lebih hemat jika digunakan dengan bijak. Belanja lewat aplikasi membantu konsumen membandingkan harga dengan cepat, memilih kendara gratis ongkos kirim, dan memanfaatkan promo yang benar-benar sesuai kebutuhan sehingga bisa mengurangi pengeluaran dibanding pergi ke toko fisik jauh dari rumah.

Namun, kenyataannya tidak semua orang bisa mengelola belanja online dengan baik. Banyak yang justru menghabiskan lebih banyak uang gara-gara godaan promo dan notifikasi tawaran menarik setiap hari dari aplikasi. Ini makin terasa ketika aplikasi memberikan banyak opsi harga khusus, cashback, dan pemberitahuan barang favorit, yang membuat pengguna merasa “jangan sampai ketinggalan” dan akhirnya checkout barang yang sebenarnya belum dibutuhkan.

Fenomena ini menurut ahli perilaku konsumen bukan hal baru, karena faktor psikologis seperti rasa takut ketinggalan promo (fear of missing out/FOMO) dan kemudahan sekali klik membuat batas antara kebutuhan dan keinginan jadi semakin tipis. Belanja impulsif seperti itu bisa bikin anggaran bulanan bocor, apalagi kalau tidak dibarengi dengan rencana belanja yang jelas.

Tapi bukan berarti aplikasi belanja hanya berpengaruh buruk. Konsumen yang sudah punya financial planning atau kebiasaan mencatat pengeluaran bisa memanfaatkan fitur promo untuk memangkas biaya belanja kebutuhan seperti barang rumah tangga atau perlengkapan sekolah.

Dengan kata lain, aplikasi belanja bisa jadi alat hemat yang sangat membantu tapi juga bisa jadi jebakan pengeluaran kalau dipakai tanpa kontrol. Kuncinya tetap ada di diri masing-masing pengguna untuk bijak menentukan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya sekadar godaan harga miring.

Penulis: Alya Siti Aisyah

Leave a Comment