Krisis Air Bersih Mengancam Indonesia: Ancaman Nyata di Depan Mata

Celer.my.id – Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan air layak konsumsi yang semakin menipis di berbagai wilayah. Pertumbuhan populasi yang masif dan perubahan iklim yang ekstrem menjadi faktor utama penyebab terjadinya krisis hidrologi ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), capaian akses air minum layak di Indonesia memang telah menyentuh angka 91,05% pada akhir tahun lalu. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa akses terhadap air minum yang benar-benar aman dan bebas kontaminasi baru mencapai sekitar 11,8%.

Kondisi di ibu kota bahkan lebih memprihatinkan karena penurunan muka tanah yang sangat cepat akibat pengambilan air tanah secara ilegal. Di sisi lain, layanan air perpipaan dari PAM Jaya baru mampu meng-cover sekitar 65% wilayah Jakarta secara keseluruhan.

Pulau Jawa diprediksi akan mengalami kekurangan air yang parah karena menopang hampir 60% penduduk Indonesia dengan cadangan air yang terbatas. Kerusakan daerah aliran sungai (DAS) memperburuk keadaan karena kemampuan tanah menyerap air hujan menurun drastis setiap tahunnya.

Kurangnya akses air bersih berdampak langsung pada tingginya angka stunting di daerah-daerah terpencil dan pinggiran kota. Anak-anak yang mengonsumsi air terkontaminasi bakteri E. coli berisiko tinggi terkena penyakit diare kronis yang menghambat pertumbuhan mereka.

Selain masalah kesehatan, krisis ini juga menciptakan beban ekonomi tambahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang harus membeli air jeriken. Warga di kawasan pesisir seringkali harus merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan air tawar untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

Pemerintah melalui Kementerian PUPR terus berupaya mempercepat pembangunan Bendungan dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) regional di berbagai provinsi. TargetĀ  Sustainable Development Goals (SDGs) menuntut Indonesia mampu menyediakan 100% akses air minum aman pada tahun 2030 mendatang.

Langkah mitigasi juga memerlukan kesadaran masyarakat dalam melakukan konservasi air melalui pembuatan sumur resapan dan biopori di lingkungan rumah. Tanpa kolaborasi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran publik, ancaman “hari tanpa air” bisa menjadi kenyataan pahit bagi generasi mendatang.

Leave a Comment