19 Tahun Aksi Kamisan, Kisah Kelam Menagih Keadilan Yang Dipaksa Bungkam

Celer.my.id – Sejak pertama kali digelar pada 18 Januari 2007, Aksi Kamisan tidak sekadar menjadi kegiatan rutin, tetapi pengingat bahwa negara masih belum menuntaskan tanggung jawab kepada korban pelanggaran HAM berat di masa lalu.

Aksi ini muncul dari rasa kecewa karena berbagai kasus, mulai tragedi 1965–1966, penghilangan paksa aktivis 1997–1998, Tragedi Mei 1998, hingga pembunuhan Munir Said Thalib, belum menemukan kejelasan.

Proses hukum yang berhenti, rekomendasi lembaga negara yang tidak dijalankan, serta janji politik yang terus diingkari membuat kekecewaan semakin besar. Dalam kondisi tersebut, Aksi Kamisan hadir sebagai ruang perlawanan warga, di mana aksi diam justru menjadi cara paling kuat untuk menuntut tanggung jawab negara.

Hingga awal 2026, Aksi Kamisan telah berjalan lebih dari 896 kali dan tetap konsisten digelar setiap pekan. Aksi ini menjadi ruang bagi keluarga korban dan masyarakat sipil untuk menagih tanggung jawab negara atas kasus pelanggaran HAM berat masa lalu.

Pada aksi terbaru, peserta menyoroti kualitas kepemimpinan nasional dan belum terselesaikannya berbagai kasus HAM berat di Indonesia. Mereka berdiri di depan Istana sambil mengenakan pakaian hitam dan membawa payung hitam sebagai simbol protes tanpa kekerasan.

Setiap pekan, tema aksi bisa berbeda-beda namun intinya sama, yakni mendesak negara untuk serius mengusut pelanggaran HAM berat. Misalnya, beberapa Aksi Kamisan sebelumnya mengangkat isu impunitas pelaku pelanggaran HAM dan penolakan terhadap manipulasi sejarah yang mengaburkan fakta peristiwa masa lalu.

Aksi Kamisan juga menjadi catatan penting bagi publik karena sudah melewati banyak pemerintahan tanpa penyelesaian yang memuaskan. Masyarakat dari berbagai kalangan ikut hadir dalam aksi ini, termasuk keluarga korban, aktivis, dan pegiat hak asasi manusia yang ingin mempertahankan suara bagi yang tak terdengar.

Selain itu, Aksi Kamisan seringkali menyisipkan bentuk apresiasi publik seperti pertunjukan seni atau teater untuk menarik perhatian lebih luas terhadap isu HAM. Hal ini terlihat dalam peringatan 19 tahun Aksi Kamisan yang diwarnai penampilan musik dan teater sebagai simbol solidaritas dan perjuangan.

Kritiknya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga masa kini karena beberapa peserta menilai bahwa masih ada kekerasan oleh aparat terhadap warga sipil. Mereka menuntut reformasi sejati dan agar militer kembali fokus pada tugasnya, serta tidak mengabaikan hak asasi manusia dalam kebijakan publik.

Aksi Kamisan tetap berjalan tanpa henti setiap Kamis karena peserta percaya bahwa keadilan adalah hak semua warga negara. Selama negara belum menuntaskan impunitas pelanggar HAM dan memberikan keadilan kepada korban, suara diam itu akan terus berdiri di depan Istana.

Penulis: Alya Siti Aisyah

Leave a Comment