Celer.my.id – Perang komentar antar netizen dari Korea Selatan dan negara-negara ASEAN memuncak di platform media sosial X setelah beberapa unggahan menjadi viral dan memicu respons tajam dari warganet.
Konflik online ini tidak hanya soal perbedaan pendapat, tetapi juga mengarah pada konten yang dinilai bersifat rasial dan memicu kemarahan di kawasan Asia Tenggara.
Awal konflik dipicu ketika sejumlah akun di Korea Selatan membuat pernyataan yang dianggap merendahkan atau menggurui budaya dan istilah tertentu di negara Asia Tenggara.
Pernyataan tersebut kemudian dikritik dan ditanggapi beragam oleh netizen dari Indonesia, Filipina, Malaysia, dan negara lainnya, sehingga perang komentar pun terjadi.
Respons dari netizen ASEAN muncul secara cepat, dengan ribuan balasan, retweet, serta unggahan yang mengecam pernyataan awal dari warganet Korea Selatan.
Banyak komentar yang meminta klarifikasi publik, sementara sejumlah konten ikut memicu debat lebih luas terkait stereotip dan identitas budaya.
Sebagian pendukung dari kedua belah pihak menggunakan tagar yang saling bertentangan, menggambarkan ketegangan yang terjadi secara daring antar komunitas netizen.
Perkembangan ini menarik perhatian pengguna media sosial lain yang tidak terlibat langsung tetapi aktif mengikuti percakapan tersebut.
Analis media sosial menyebut perbedaan sudut pandang dan ketidakharmonisan konteks budaya sering kali menjadi pemicu utama konflik online.
Dalam kasus ini, pemicu komentar awal dianggap terlalu sepele oleh netizen ASEAN, sehingga memicu reaksi luas di platform global.
Beberapa netizen dari kawasan Asia Tenggara menilai konten yang dianggap merendahkan budaya mereka tidak hanya soal perbedaan pendapat, tetapi juga berpotensi memicu sentimen negatif yang lebih luas.
Mereka menyerukan dialog yang lebih sehat untuk menghindari konflik yang semakin parah di ranah digital.
Sementara itu, netizen Korea Selatan yang terlibat juga memberikan penjelasan atau klarifikasi bahwa komentar mereka bukan dimaksudkan untuk merendahkan pihak lain.
Klarifikasi semacam ini kemudian berkembang menjadi diskusi panjang di kolom komentar dan unggahan lanjutan.
Perang komentar semacam ini menjadi salah satu contoh bagaimana dinamika percakapan di media sosial dapat dengan cepat berubah dari diskusi biasa menjadi konflik yang lebih luas.
Para pengguna disarankan menanggapi isu lintas budaya dengan hati-hati agar tidak memperburuk suasana.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial menjadi ruang ekspresi sekaligus tantangan bagi komunikasi antar budaya di era digital.
Para pengamat budaya dan teknologi menilai perlu ada literasi digital yang lebih kuat untuk memahami perbedaan konteks komunikasi daring.
Penulis: Najihatun Fadlliyah