Celer.my.id – Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, mencari nafkah atau rezeki bukan hanya soal kerja keras semata, melainkan juga tentang bagaimana menyelaraskan diri dengan harmoni alam semesta melalui hitungan waktu. Konsep menentukan arah keberuntungan berdasarkan hari pasaran—Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon—masih dipegang teguh oleh banyak orang sebagai “kompas spiritual” untuk memulai aktivitas bisnis atau perdagangan.
Dalam khazanah Primbon Jawa, setiap hari pasaran dipercaya memiliki energi spesifik yang memancar dari arah mata angin tertentu, yang jika diikuti konon akan mempermudah datangnya “sandang pangan”. Panduan ini sering disebut sebagai Ilmu Titen, yaitu ilmu berdasarkan pengamatan berulang yang dilakukan oleh leluhur selama ratusan tahun untuk membaca pola alam (Perlu diverifikasi: Rujuk pada kitab Betaljemur Adammakna untuk variasi tafsir yang lebih mendalam).
Jika hari ini jatuh pada pasaran Legi, kearifan lokal menyarankan Anda untuk melangkahkan kaki mencari rezeki ke arah Timur atau Selatan sebagai titik awal keberuntungan. Energi pada hari Legi dianggap sangat selaras dengan elemen di arah tersebut, sehingga sangat cocok bagi mereka yang bekerja sebagai sales atau pedagang keliling untuk memulai rutenya.
Sementara itu, untuk hari pasaran Pahing, arah Selatan sering disebut sebagai pusat energi rezeki yang paling kuat dan dipercaya membawa hoki finansial. Bagi Anda yang hendak membuka lapak dagangan atau menjemput bola ke klien, memprioritaskan wilayah di sebelah Selatan tempat tinggal dianggap bisa membawa hasil yang lebih maksimal (Perlu diverifikasi: Pastikan tidak bertabrakan dengan arah pantangan ‘Nogo Dino’ pada hari tersebut).
Bergeser ke hari pasaran Pon, petunjuk leluhur mengarahkan pandangan ke wilayah Barat atau Utara sebagai ladang rezeki yang paling potensial untuk digarap. Banyak pelaku usaha tradisional meyakini bahwa menyongsong rezeki ke arah Barat pada hari Pon akan meminimalisir hambatan tawar-menawar yang alot dan mempercepat terjadinya kesepakatan transaksi.
Untuk hari pasaran Wage, arah Utara dipercaya memegang kunci pintu rezeki yang sebaiknya dituju saat Anda keluar rumah untuk bekerja. Fokus energi di utara pada hari Wage ini diyakini mampu menarik materi dan keuntungan, sehingga sangat disarankan untuk tidak memunggungi arah ini saat sedang bernegosiasi bisnis.
Terakhir adalah pasaran Kliwon, yang sering dianggap istimewa karena memiliki aura mistis yang kuat dengan arah keberuntungan yang berpusat di Tengah atau bisa juga ke arah Timur dan Barat. Karena posisinya yang unik di tengah, hari Kliwon menuntut keseimbangan batin yang lebih kuat dari pencari rezeki agar bisa menyerap energi positif dari segala penjuru (Perlu diverifikasi: Tafsir arah Kliwon sering berbeda antar versi primbon, ada yang menyebutkan arah spesifik tergantung jam keberangkatan).
Penerapan ilmu arah rezeki ini di zaman modern sebenarnya bisa dimaknai sebagai sugesti positif untuk membangun rasa percaya diri sebelum kita mulai “berperang” mencari uang. Dengan memiliki rencana perjalanan yang terarah, seseorang akan merasa lebih siap secara mental dan memiliki tujuan yang jelas, bukan sekadar bergerak tanpa arah.
Tentu saja, pedoman arah mata angin ini sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya patokan mutlak yang membatasi ruang gerak Anda dalam berkarya dan bekerja secara profesional. Anggaplah warisan budaya ini sebagai doa dan ikhtiar tambahan untuk melengkapi strategi bisnis rasional yang sudah Anda susun dengan matang sebelumnya.
Pada akhirnya, segala bentuk rezeki tetaplah hak prerogatif Tuhan Yang Maha Esa yang akan turun kepada siapa saja yang mau berusaha tanpa kenal lelah. Arah mata angin hanyalah sarana untuk memantapkan hati, namun keringat dan kejujuran tetap menjadi mata uang yang paling berlaku di mana pun Anda mencari nafkah.