Celer.my.id – Dunia sepak bola tidak akan pernah melupakan sosok Ruud Gullit, pria dengan gaya rambut gimbal ikonik yang pernah merajai lapangan hijau Eropa pada era 80-an dan 90-an.
Ia bukan hanya sekadar atlet berbakat, melainkan simbol revolusi Total Football modern yang membawa Timnas Belanda dan klub-klub besar menuju puncak kejayaan mereka.
Lahir di Amsterdam dengan nama asli Rudi Dil, ia tumbuh besar mengasah bakat alaminya di jalanan kota yang keras namun kental dengan kultur sepak bola jalanan.
Darah Suriname dari sang ayah memberikannya fisik atletis yang luar biasa, dipadukan dengan teknik halus dan visi bermain cerdas khas sekolah sepak bola Belanda.
Karier profesionalnya mulai menarik perhatian dunia saat ia membela Feyenoord dan berkesempatan bermain bersama legenda Johan Cruyff, sosok yang menjadi mentor sekaligus inspirasinya.
Di sanalah Gullit mulai bertransformasi dari posisi sweeper menjadi gelandang serang mematikan yang sulit dihentikan oleh pertahanan lawan manapun.
Perpindahannya ke PSV Eindhoven kemudian memecahkan rekor transfer saat itu, membuktikan bahwa ia adalah sosok yang paling diburu di benua Eropa.
Bersama PSV, ia semakin matang dan menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin tim dengan kombinasi kekuatan fisik, kecepatan lari, dan ketajaman mencetak gol yang di atas rata-rata.
Puncak karier sang “Tulip Hitam” terjadi saat ia hijrah ke Italia untuk bergabung dengan raksasa AC Milan, membentuk trio Belanda legendaris bersama Marco van Basten dan Frank Rijkaard.
Di sanalah Gullit meraih penghargaan individu paling bergengsi, Ballon d’Or pada tahun 1987, sebuah pengakuan mutlak dunia atas dominasinya di lapangan tengah Serie A yang terkenal ketat
Momen paling emosional bagi publik Belanda adalah ketika Gullit sebagai kapten berhasil mengangkat trofi Piala Eropa 1988, satu-satunya gelar mayor yang pernah diraih De Oranje hingga detik ini.
Gol sundulannya yang keras di laga final melawan Uni Soviet menjadi bukti nyata kepemimpinannya yang karismatik dan kontribusinya yang tak tergantikan bagi negara.
Keunikan Gullit terletak pada versatilitasnya yang luar biasa, di mana ia mampu bermain di hampir semua posisi mulai dari bek tengah, gelandang box-to-box, hingga penyerang murni dengan sama baiknya.
Pelatih manapun yang menanganinya selalu memiliki kemewahan taktik karena Gullit bisa ditempatkan di mana saja sesuai kebutuhan tim saat itu.
Menjelang akhir kariernya, ia pindah ke Inggris untuk membela Chelsea dan memperkenalkan istilah “Sexy Football” yang kemudian mengubah cara pandang publik Inggris yang kaku terhadap permainan indah.
Di klub London inilah ia kemudian transisi peran menjadi pemain sekaligus manajer (player-manager), sebuah peran ganda yang jarang sukses dilakukan namun berhasil dieksekusi Gullit dengan mempersembahkan trofi FA Cup.
Setelah gantung sepatu, Gullit tidak benar-benar meninggalkan dunia yang membesarkan namanya dan kini aktif sebagai pandit atau komentator elit di berbagai stasiun televisi olahraga internasional.
Analisisnya yang tajam namun santai membuatnya tetap relevan dan dihormati oleh penggemar sepak bola lintas generasi, termasuk Gen Z yang mengenalnya lewat video game.
Di luar lapangan, Gullit juga dikenal sebagai sosok yang menyuarakan anti-rasisme dan sering terlibat dalam berbagai kegiatan amal yang menggunakan sepak bola sebagai alat pemersatu.
Dedikasinya terhadap isu kemanusiaan membuatnya tidak hanya dikenang sebagai pesepak bola hebat, tetapi juga sebagai manusia dengan kepribadian yang hangat dan peduli.
Warisan Ruud Gullit melampaui sekadar statistik gol atau deretan piala di lemari kabinetnya, melainkan tentang bagaimana seorang pemain bisa membawa kegembiraan dan karakter kuat ke dalam permainan.
Hingga hari ini, nama Ruud Gullit tetap abadi sebagai salah satu gelandang terlengkap dan paling berpengaruh yang pernah dilahirkan oleh sejarah sepak bola dunia.