Dilema Investasi Emas 2026: Peluang Cuan Jangka Panjang di Tengah Koreksi Harga

Celer.my.id  – Pergerakan harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menjadi sorotan setelah mengalami fluktuasi tajam pada pertengahan Februari 2026. Berdasarkan data terbaru per Selasa (17/2/2026),

harga emas Antam berada di level Rp2.918.000 per gram setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di angka Rp3,16 juta pada akhir Januari lalu.

Kondisi ini memicu pertanyaan besar di kalangan masyarakat mengenai apakah saat ini waktu yang tepat untuk membeli atau justru akan merugi.

Penurunan tipis ini sebenarnya menjadi fenomena yang sering kali justru dimanfaatkan oleh investor berpengalaman untuk menambah aset.

Pakar Ekonomi Universitas Kristen Petra, Dr. Nanik Linawati, menjelaskan bahwa lonjakan harga hingga menembus angka Rp3 juta merupakan sinyal kecemasan global terhadap resesi.

Emas tetap menjadi instrumen safe haven utama ketika instrumen investasi lain seperti saham atau kripto mengalami volatilitas tinggi akibat ketidakpastian politik dunia.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat tertekan ke level Rp16.837 per dolar AS turut mendongkrak harga emas domestik menjadi lebih mahal.

Meskipun harga sedang mengalami koreksi teknis, fundamental emas diprediksi tetap kuat karena cadangan emas dunia yang semakin terbatas dan biaya produksi tambang yang terus membengkak.

Bagi investor pemula, membeli emas saat harga berada di puncak memang berisiko memberikan kerugian psikologis jika terjadi penurunan dalam jangka pendek.

Namun, jika melihat proyeksi bank investasi global seperti JP Morgan dan Goldman Sachs, harga emas dunia diprediksi masih bisa meroket hingga US$5.000 per ons pada akhir 2026.

Kalkulasi potensi keuntungan emas sangat bergantung pada durasi simpan, di mana pembeli tahun 2024 telah mencatatkan keuntungan di atas 90% pada hari ini.

Sebaliknya, mereka yang baru membeli di awal Februari 2026 saat harga Rp2,95 juta mungkin merasakan “rugi kertas” sekitar 8% akibat adanya selisih harga jual kembali (buyback).

Para analis menyarankan masyarakat untuk tidak terjebak fenomena FOMO atau sekadar ikut-ikutan tren saat harga melonjak tinggi.

Membeli emas di saat terjadi koreksi harga seperti sekarang dianggap lebih bijak bagi mereka yang memiliki orientasi keuangan jangka panjang di atas lima tahun.

Emas tidak dirancang untuk memberikan kekayaan instan dalam hitungan hari, melainkan sebagai pelindung nilai kekayaan dari inflasi.

Dengan kondisi geopolitik yang masih panas, logam mulia ini diperkirakan akan tetap menjadi raja aset di portofolio investasi sepanjang tahun ini.

Penulis: Azhimah Nurfifah Maysa

Leave a Comment