Celer.my.id – Keputusan final mengenai penutupan operasional PT Toba Pulp Lestari (TPL) akhirnya menjadi kenyataan, menyisakan dua sisi mata uang yang sangat kontras bagi masyarakat Sumatera Utara. Di satu sisi, para aktivis lingkungan dan masyarakat adat bernapas lega, namun di sisi lain, ribuan karyawan kini dihantui kecemasan mendalam mengenai masa depan dapur mereka.
Ribuan tenaga kerja yang selama ini menggantungkan hidup pada pabrik bubur kertas tersebut harus bersiap menghadapi gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang tak terelakkan dalam waktu dekat. Surat keputusan penutupan ini bukan sekadar kertas administratif, melainkan sebuah vonis yang berpotensi mengubah nasib ribuan kepala keluarga di wilayah Tapanuli dalam sekejap mata.
Dampak ekonominya dipastikan tidak hanya berhenti di pintu gerbang pabrik, tetapi akan merembet bagaikan efek domino ke sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di sekitarnya. Para pemilik warung makan, penyedia jasa indekos, hingga sopir angkutan yang selama ini hidup dari aktivitas harian karyawan TPL kini terancam kehilangan pelanggan setia mereka secara mendadak.
Kawasan Porsea yang biasanya hidup dengan denyut ekonomi industri diprediksi akan mengalami penurunan perputaran uang yang cukup drastis dalam beberapa bulan ke depan. Pemerintah daerah kini memikul beban berat untuk segera merumuskan jaring pengaman sosial agar guncangan ekonomi ini tidak memicu krisis kesejahteraan yang lebih parah di tengah masyarakat.
Isu pesangon menjadi topik paling panas yang dibahas di warung-warung kopi, di mana para pekerja menuntut hak mereka dibayarkan penuh sesuai aturan undang-undang tanpa sistem cicilan. Serikat pekerja menegaskan akan terus mengawal proses ini hingga rupiah terakhir, memastikan keringat anggotanya dihargai dengan layak sebelum mereka benar-benar harus angkat kaki dari pabrik.
Di sisi lain, wacana pengalihan tenaga kerja ke sektor pariwisata Danau Toba terdengar sebagai solusi idealis yang kini gencar digaungkan oleh para pemangku kebijakan. Namun, realitanya tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena mengubah mindset dan keahlian teknis dari pekerja pabrik menjadi pelaku wisata membutuhkan waktu dan pelatihan intensif.
Tantangan besar juga menanti pemerintah untuk meyakinkan investor baru agar mau masuk dan membangun industri alternatif yang lebih ramah lingkungan di bekas lokasi operasional perusahaan. Tanpa adanya pengganti sumber ekonomi yang sepadan dan cepat, angka pengangguran di Kabupaten Toba dan sekitarnya dikhawatirkan akan melonjak tajam pada statistik tahun ini.
Masyarakat adat yang selama ini memperjuangkan tanah ulayat memang merayakan momen ini sebagai kemenangan ekologis dan pemulihan martabat leluhur yang telah lama dinanti. Namun, rasa empati tetap harus ditumbuhkan bagi saudara-saudara mereka yang kini harus berjuang mencari mata pencaharian baru di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu.
Transisi dari ekonomi berbasis industri ekstraktif menuju ekonomi berkelanjutan memang selalu menyakitkan di fase awal, namun diyakini akan membawa berkah jangka panjang bagi kelestarian alam. Danau Toba yang lebih bersih dan hutan kemenyan yang kembali lestari diharapkan bisa menjadi modal baru yang kuat untuk menarik devisa dari sektor ekowisata kelas dunia.
Kini, semua mata tertuju pada langkah konkret pemerintah pusat dan daerah dalam menanggulangi dampak sosial pasca “tutup buku”-nya sang raksasa industri kertas tersebut. Solidaritas antarwarga Tapanuli kini sedang diuji untuk saling menguatkan, membuktikan bahwa kehidupan tetap bisa berjalan dan bahkan lebih baik meski tanpa asap pabrik yang mengepul.