Celer.my.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim hujan 2025-2026 di Indonesia akan berlangsung hingga sekitar Maret 2026, sebelum mulai bergeser menuju musim kemarau di beberapa wilayah.
Setelah fase hujan ini berakhir, sebagian daerah diperkirakan akan memasuki musim kemarau dengan curah hujan yang menurun drastis.
Transisi dari musim hujan ke musim kemarau diperkirakan terjadi mulai akhir Maret 2026, terutama di sejumlah kawasan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Ini merupakan fase di mana frekuensi hujan mulai berkurang secara umum dan kondisi udara cenderung lebih kering.
BMKG juga mencatat bahwa beberapa wilayah pesisir seperti Aceh, Sumatera Utara, serta Riau sudah mulai menunjukkan tanda-tanda awal masuknya musim kemarau lebih cepat dibanding daerah lain.
Pergeseran musim ini mengikuti pola iklim yang lebih luas dan dipengaruhi oleh berbagai variabel atmosfer seperti anomali suhu permukaan laut dan sirkulasi angin global.
Pola cuaca seperti La NiƱa yang lemah juga ikut memengaruhi perubahan musim.
Pada musim kemarau, curah hujan yang menurun biasanya berlanjut hingga beberapa bulan setelahnya.
BMKG memperkirakan kondisi kekeringan akan lebih menonjol di wilayah Indonesia pada periode April hingga awal memasuki pertengahan tahun 2026.
Walaupun musim kemarau diperkirakan dimulai setelah Maret, beberapa wilayah masih bisa menerima hujan sesekali di awal musim transisi.
Kondisi ini adalah bagian dari pola musim yang tidak seragam di seluruh Indonesia.
Musim kemarau ini menjadi penting terutama bagi sektor pertanian, energi, dan pengelolaan sumber daya air, karena penurunan hujan dapat memengaruhi pertanian tanaman pangan dan pasokan air bersih.
BMKG dan instansi terkait biasanya mengeluarkan peringatan dini serta panduan bagi masyarakat untuk menghadapi perubahan musim agar bisa melakukan antisipasi, misalnya menjaga ketersediaan air dan mengurangi risiko kebakaran lahan.
Meski musim kemarau memberikan cuaca yang lebih kering dan panas, masyarakat tetap dianjurkan untuk terus memantau prakiraan cuaca harian.
Hal ini penting karena fenomena lokal dan perubahan iklim dapat menyebabkan variasi cuaca yang tak terduga.
Dengan mengetahui perkiraan awal musim kemarau, warga dapat merencanakan aktivitas luar ruang atau perjalanan jauh dengan lebih matang, menyesuaikan kebutuhan pakaian, perlindungan dari panas, dan keselamatan di area rawan kekeringan.
Penulis: Najihatun Fadlliyah