Celer.my.id – Momen menjelang berbuka puasa selalu menjadi waktu yang paling dinantikan oleh jutaan umat Muslim di seluruh pelosok Indonesia.
Suasana riuh di pasar takjil seketika berubah menjadi hening dan khusyuk saat jarum jam mendekati waktu azan Magrib berkumandang.
Bukan sekadar melepas dahaga, ritual berbuka memiliki esensi spiritual yang sangat dalam bagi setiap individu yang menjalankannya.
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa waktu berbuka adalah salah satu waktu paling mustajab bagi seorang hamba untuk memanjatkan doa.
Berdasarkan riwayat sahih, terdapat beberapa versi doa yang sering diamalkan oleh masyarakat sesuai dengan tuntunan sunah Nabi.
Kalimat “Allahumma laka sumtu” menjadi yang paling populer, sementara versi “Dzahaba-zhama’u” dinilai memiliki keshahihan yang kuat secara sanad.
Membaca doa sebelum menyentuh makanan bukan sekadar formalitas lisan, melainkan bentuk syukur atas kekuatan fisik yang diberikan Tuhan.
Tanpa kesadaran ini, aktivitas makan dan minum hanya akan menjadi pemuasan nafsu biologis setelah seharian penuh menahan lapar.
Para ulama menekankan pentingnya adab saat berdoa, yakni dengan menengadahkan tangan dan penuh rasa harap yang tulus.
Hal ini mencerminkan pengakuan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat bergantung pada rezeki dari Sang Pencipta.
Hal ini menjadi menarik terlihat di kota-kota besar, di mana tradisi berbuka bersama atau “bukber” tetap menyisipkan sesi doa bersama secara kolektif.
Meski di tengah hiruk pikuk restoran, keheningan sejenak untuk berdoa memberikan warna spiritual yang menyejukkan hati.
Menariknya, medis juga mencatat bahwa ketenangan mental saat berdoa dapat membantu sistem pencernaan bersiap menerima asupan makanan kembali.
Kondisi psikologis yang tenang membuat enzim pencernaan bekerja lebih optimal saat makanan pertama masuk ke dalam lambung.
Urutan berbuka yang disarankan adalah membatalkan puasa terlebih dahulu dengan sedikit air atau kurma, baru kemudian membaca doa syukur.
Langkah ini sesuai dengan hadis yang menyebutkan rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah kembali.
Faktanya, doa berbuka puasa juga mengandung pesan sosial tentang empati terhadap mereka yang masih kesulitan mendapatkan makanan layak.
Kesadaran ini diharapkan terus membekas dalam perilaku sehari-hari, bahkan setelah bulan suci Ramadan berakhir nantinya.
Menjaga kualitas doa berarti menjaga kualitas ibadah puasa itu sendiri agar tidak sekadar mendapatkan rasa lapar.
Mari jadikan setiap detik menjelang berbuka sebagai sarana untuk memperbaiki koneksi spiritual kita dengan Tuhan secara lebih personal.
Penulis: Azhimah Nurfifah Maysa