Celer.my.id – Cuaca ekstrem berupa hujan disertai angin kencang belakangan ini memang membuat masyarakat was-was saat hendak beraktivitas di luar rumah. Menjawab keresahan publik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan analisis terbarunya mengenai durasi fenomena alam yang sedang melanda sebagian besar wilayah Indonesia ini.
Berdasarkan data Klimatologis, puncak musim hujan di awal tahun 2026 ini diprediksi masih akan berlangsung dengan intensitas tinggi hingga akhir Januari atau pertengahan Februari mendatang. Artinya, kita semua masih harus menyiapkan selalu jas hujan dan payung setidaknya untuk beberapa pekan ke depan sebelum curah hujan berangsur mereda.
Penyebab utama dari kondisi yang berkepanjangan ini adalah masih aktifnya angin Monsun Asia yang membawa massa udara dalam jumlah besar dari benua Asia menuju wilayah kepulauan nusantara.
Kabar baiknya, intensitas hujan diperkirakan akan mulai menunjukkan penurunan yang signifikan saat kita memasuki periode peralihan musim atau pancaroba di sekitar bulan Maret hingga April nanti. Pada masa transisi rersebut, hujan tidak akan turun terus menerus sepanjang hari, melainkan hanya terjadi dalam durasi singkat namun seringkali disertai petir atau angin kencang.
Namun perlu diingat bahwa Indonesia memiliki bentang wilayah yang sangat luas, sehingga zona musim (ZOM) di setiap daerah memiliki karakteristik waktu puncak dan penurunan yang berbeda-beda satu sama lain. Wilayah Indonesia bagian barat seperti Jawa dan Sumatera biasanya akan mengalami fase puncak hujan yang sedikit berbeda waktunya dengan saudara-saudara kita yang berada di wilayah timur Indonesia.
Selama sisa periode puncak ini, potensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang masih menjadi ancaman nyata yang tidak boleh dipandang sebelah mata oleh siapa pun. Masyarakat yang tempat tinggalnya berada di bantaran sungai atau area perbukitan rawan labil diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra, terutama jika hujan turun terus-menerus lebih dari satu jam.
Tidak hanya berdampak di daratan, kondisi perairan Indonesia saat ini juga sedang kurang bersahabat bagi para nelayan tradisional maupun pengguna moda transportasi laut karena adanya potensi gelombang tinggi yang membahayakan pelayaran.
Pemerintah daerah setempat juga diharapkan terus memantau kondisi drainase dan tata kelola air kota untuk meminimalisir risiko genangan air yang seringkali melumpuhkan lalu lintas di jam sibuk. Langkah antisipasi dan mitigasi dini dari pemangku kebijakan akan sangat membantu mengurangi dampak kerugian materiil maupun moril yang mungkin dirasakan oleh warga terdampak.