Celer.my.id – Bank Central Asia (BCA) baru saja mengumumkan aturan saldo minimum baru untuk produk tabungan seperti Tahapan Xpresi dan Tabungan Biasa. Aturan ini mulai berlaku pada awal 2026, dengan tujuan mendorong nasabah lebih aktif memanfaatkan layanan perbankan. Namun, kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya pada kehidupan sehari-hari, khususnya bagi kalangan nasabah ritel yang bergantung pada pendapatan rutin.
Aturan tersebut menetapkan saldo minimal rata-rata bulanan antara Rp10.000 hingga Rp100.000, tergantung jenis akun. Jika saldo tidak mencapai ambang batas tersebut, nasabah akan dikenai biaya administrasi bulanan sebesar Rp10.000 hingga Rp15.000. Selain itu, rekening dapat ditutup secara otomatis jika saldo rendah berlangsung terus-menerus. Hal ini memaksa ribuan nasabah untuk merevisi strategi pengelolaan keuangan harian mereka.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil, aturan baru ini menambah beban bagi nasabah ritel. Survei internal BCA menunjukkan bahwa sekitar 60% pemilik akun tabungan aktif memiliki saldo rata-rata di bawah Rp50.000. Perubahan ini memengaruhi pola penggunaan layanan perbankan harian, terutama di era digitalisasi keuangan pasca-pandemi. Segmen ekonomi menengah-bawah paling terdampak, karena peningkatan biaya operasional dapat membebani anggaran keluarga.
Dampaknya cukup luas. Potensi penutupan rekening dapat mengganggu transaksi rutin, seperti pembayaran tagihan atau penarikan tunai. Konsekuensi biaya administrasi ini berpotensi memicu ketegangan finansial, terutama bagi keluarga pekerja harian. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih mengkaji kebijakan serupa, dengan peluang pengecualian bagi rekening pensiun atau simpanan pokok demi melindungi nasabah rentan.
Ke depan, nasabah diprediksi beralih ke akun digital hybrid seiring meningkatnya penggunaan mobile banking. Layanan ini memudahkan pengelolaan saldo minimum secara efisien tanpa perlu datang ke bank. Meski begitu, keterbatasan akses internet di wilayah pedesaan masih menjadi tantangan.
Pembahasan ini bertujuan memberi gambaran jelas tentang dampak ekonomi dari aturan tersebut. Transaksi harian menjadi lebih terbatas, sementara nasabah harus mengatur keuangan dengan lebih hati-hati. Pertanyaan utamanya, apakah aturan ini benar-benar mendukung keberlanjutan bank atau justru menambah beban bagi masyarakat?
Untuk menghindari biaya, nasabah dapat memanfaatkan fitur transfer gratis melalui m-BCA. Setoran tunai online juga merupakan opsi yang direkomendasikan, asalkan saldo memadai. Disarankan untuk menghindari penggunaan ATM non-BCA, mengingat biaya tambahan yang lebih tinggi.
Berdasarkan survei BCA, sekitar 60 persen nasabah kecil merasa khawatir dengan aturan saldo minimum. Kondisi ini tidak hanya terjadi di BCA, tetapi juga menjadi tren nasional di berbagai lembaga keuangan. OJK mendorong adanya pengecualian bagi rekening tertentu agar nasabah rentan tidak semakin terbebani. Pakar memprediksi penggunaan layanan digital akan meningkat, meski masih membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai.
Akhirnya, aturan baru ini menguji ketangguhan nasabah dalam menghadapi perubahan. Edukasi mengenai pengelolaan keuangan menjadi kunci utama. Pertanyaannya, bagaimana nasabah dapat beradaptasi dengan aturan ini tanpa mengalami kerugian?.