Celer.my.id – Umat Muslim kembali menyambut kedatangan bulan mulia Sya’ban 1447 Hijriah yang menjadi gerbang pembuka menuju bulan suci Ramadan. Bulan ini memiliki posisi yang sangat istimewa dalam kalender Islam, namun seringkali kehadirannya kurang disadari karena posisinya yang “terjepit” di antara bulan Rajab yang mulia dan bulan Ramadan yang agung.
Terkait penetapan tanggal pastinya, perlu dicatat bahwa penanggalan 1 Sya’ban sangat bergantung pada metode rukyatul hilal atau hisab yang digunakan oleh masing-masing organisasi Islam dan pemerintah. Oleh karena itu, kami sangat menyarankan Anda untuk memverifikasi ulang tanggal aktual masuknya bulan ini melalui pengumuman resmi Kementerian Agama atau kalender ormas Islam setempat untuk memastikan validitas waktu ibadah Anda.
Salah satu keutamaan terbesar bulan Sya’ban adalah peristiwa diangkatnya amal perbuatan manusia secara tahunan kepada Allah SWT atau yang dikenal dengan istilah Raf’ul A’mal. Rasulullah SAW sendiri sangat gemar berpuasa di bulan ini karena beliau ingin saat amalannya dilaporkan kepada Sang Pencipta, beliau sedang dalam keadaan menjalankan ibadah puasa.
Bagi Anda yang ingin meneladani kebiasaan Nabi, memperbanyak puasa sunnah di bulan ini sangat dianjurkan sebagai bentuk latihan fisik dan mental sebelum menghadapi puasa wajib sebulan penuh. Ibadah ini juga berfungsi sebagai momen pemanasan agar tubuh tidak kaget saat nanti harus menahan lapar dan dahaga seharian penuh di bulan Ramadan.
Jadwal puasa sunnah yang bisa Anda kerjakan meliputi puasa Senin-Kamis yang sudah rutin dilakukan, serta puasa Ayyamul Bidh yang jatuh pada pertengahan bulan Hijriah. Biasanya, puasa Ayyamul Bidh dilaksanakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah, yang menjadi momen tepat untuk memaksimalkan pahala di tengah bulan.
Selain itu, terdapat satu malam yang sangat dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia pada bulan ini, yaitu malam Nisfu Sya’ban atau malam pertengahan bulan. Malam ini dipercaya sebagai malam penuh ampunan, di mana Allah SWT membuka pintu maaf seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang tulus bertaubat dan memohon ampunan.
Banyak ulama menganjurkan agar kita mengisi malam Nisfu Sya’ban dengan memperbanyak salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan memanjatkan doa-doa terbaik untuk diri sendiri maupun keluarga. Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai tata cara ibadah khususnya, semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah di malam tersebut tetap menjadi hal positif yang patut dilestarikan.
Bulan Sya’ban juga menjadi “lampu kuning” atau pengingat terakhir bagi mereka yang masih memiliki utang puasa Ramadan tahun lalu untuk segera melunasinya atau qadha. Sangat disarankan untuk menyelesaikan kewajiban qadha ini sesegera mungkin sebelum hilal Ramadan benar-benar terlihat, agar kita bisa memasuki bulan suci dengan hati yang tenang dan tanpa beban.
Dalam riwayat yang populer, Siti Aisyah RA pernah menceritakan bahwa beliau tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sunnah lebih banyak di bulan lain selain di bulan Sya’ban. Hal ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Nabi terhadap bulan ini, yang semestinya menjadi motivasi bagi kita untuk tidak membiarkan hari-hari di bulan Sya’ban berlalu dengan sia-sia.
Selain aspek ibadah vertikal, Sya’ban juga menjadi waktu yang tepat untuk mempererat hubungan horizontal atau silaturahmi dengan sesama manusia. Saling memaafkan antar sesama teman, kerabat, dan tetangga menjadi tradisi baik yang bisa membersihkan hati dari rasa dendam sebelum kita fokus beribadah total di bulan Ramadan.
Bagi Anda yang memiliki kesibukan padat, tidak perlu memaksakan diri untuk berpuasa sebulan penuh, cukup ambil beberapa hari saja sesuai kemampuan fisik. Kualitas ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan konsisten jauh lebih disukai daripada ibadah yang dilakukan secara berlebihan namun memberatkan dan tidak bertahan lama.
Perbanyaklah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, karena salah satu ayat perintah bershalawat diturunkan di bulan Sya’ban yang penuh berkah ini. Lantunan shalawat tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga menjadi wasilah turunnya rahmat Allah SWT dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kesehatan tubuh juga harus menjadi prioritas utama di bulan ini, mengingat perubahan cuaca yang mungkin terjadi bisa mempengaruhi daya tahan tubuh jelang Ramadan. Mengonsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup saat sahur dan berbuka puasa sunnah akan sangat membantu menjaga stamina Anda tetap prima.
Jangan lupa untuk mulai mengatur ulang ritme tidur dan kebiasaan harian Anda agar nanti tidak mengalami kesulitan adaptasi saat harus bangun sahur setiap hari. Penyesuaian kecil yang dilakukan sejak bulan Sya’ban akan memberikan dampak besar pada kelancaran ibadah puasa wajib Anda nantinya.
Semoga bulan Sya’ban tahun 1447 H ini menjadi ladang pahala yang subur dan menjadi sarana penyucian diri yang efektif bagi kita semua. Mari kita sambut bulan ini dengan penuh sukacita dan persiapan matang, agar kita benar-benar siap menjadi pribadi yang bertakwa saat Ramadan tiba nanti.